Gelombang Panic Buying BBM Terjadi di Sejumlah Daerah di Indonesia, Pemerintah Keluarkan Imbauan
Gelombang panic buying BBM melanda sejumlah kota di Indonesia dan berbagai negara setelah eskalasi konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Ilustrasi pengisian BBM. Kementerian ESDM mengimbau masyarakat tidak panic buying BBM. Pemerintah memastikan pasokan BBM nasional aman meski di tengah memanasnya situasi global akibat konflik AS dan Israel dengan Iran. Foto: ist/
trustjabar.com - Gelombang panic buying bahan bakar minyak (BBM) melanda sejumlah kota di Indonesia dan berbagai negara. Gelombang kepanikan ini terjadi setelah eskalasi konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global.
Baca Juga : Meski Kapasitas Penampungan Terbatas, Pemerintah Pastikan Cadangan BBM Nasional Aman
Di Indonesia, antrean panjang kendaraan memadati SPBU di Medan, Aceh Tengah, Bener Meriah, hingga kawasan Jawa Timur. Sementara gelombang panic buying BBM juga terjadi di Korea Selatan, Australia, dan Sri Lanka.Aksi borong BBM di Indonesia dipicu oleh kombinasi kekhawatiran global dan pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Menteri ESDM ini menyebut cadangan BBM nasional hanya cukup untuk sekitar 20 hari. "Masih cukup 20 hari," kata Bahlil di Istana Kepresidenan pada Senin (2/3/2026).
Pernyataan tersebut memicu kepanikan masyarakat melakukan panic buying BBM. Bahlil kemudian mengklarifikasi bahwa angka tersebut merupakan kapasitas tampung normal Indonesia. "Jangan salah persepsi, memang sejak lama kemampuan storage kita di RI ini tidak lebih dari 21-25 hari," ungkapnya pada Rabu (4/3/2026). Melansir berbagai sumber, gelombang panic buying BBM terjadi di Medan. Warga menyerbu SPBU pada Kamis (5/3/2026) malam. Antrean kendaraan mengular di berbagai SPBU sejak pukul 21.30 WIB. Di Aceh Tengah, warga membeli BBM menggunakan jeriken berbagai ukuran, tidak hanya mengisi tangki kendaraan tetapi juga menimbun untuk persediaan.Pemerintah Imbau Warga Tidak Panic Buying BBM
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Jumat (6/3/2026) mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying BBM. Imbauan ini disampaikan setelah aksi pembelian BBM secara berlebihan terjadi di sejumlah daerah, termasuk di Aceh dan beberapa wilayah Sumatra. "Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak lakukan panic buying BBM. Tidak melakukan penimbunan yang nantinya justru bisa menyebabkan kelangkaan," kata Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia dalam keterangannya.Baca Juga : Presiden Prabowo Bentuk Satgas Percepatan Transisi Energi, Dua Tugas Ini Jadi Fokus Utama
Anggia juga menegaskan, tidak ada rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi di tengah dinamika harga minyak dunia saat ini.
PT Pertamina (Persero) memastikan stok BBM nasional berada dalam kondisi aman dengan ketahanan rata-rata 21 hingga 23 hari per 1 Maret 2026.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyatakan seluruh fasilitas operasional Pertamina akan bekerja 24 jam. Hal itu untuk menjamin ketersediaan BBM, LPG, dan avtur, khususnya menjelang periode mudik Lebaran.
Pertamina memproyeksikan puncak arus mudik terjadi pada 14-15 Maret dan 18-19 Maret 2026. Sementara proyeksi arus balik akan berlangsung pada 24-25 Maret dan 28-29 Maret 2026. Untuk mendukung kebutuhan pemudik, Pertamina menyiagakan 2.074 SPBU beroperasi 24 jam, 6.300 agen LPG, serta 200 unit mobil tangki cadangan.
Gelombang panic buying BBM ini bermula dari penutupan Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran pada 28 Februari 2026. Hal itu menyusul serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Dampak dari penutupan itu mendorong lonjakan harga minyak dunia.Sementara itu, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi menegaskan jika Selat Hormuz tetap terbuka. Ia juga membantah penutupan jalur perdagangan strategis tersebut. Ia menegaskan, hanya menerapkan protokol keamanan khusus yang berlaku dalam situasi perang. (cep/trustjabar/R1)
Komentar
0 komentar untuk Gelombang Panic Buying BBM Terjadi di Sejumlah Daerah di Indonesia, Pemerintah Keluarkan Imbauan
Masuk dulu untuk ikut diskusi
Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.