Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem di Indonesia, BNPB Imbau Warga Lakukan Evakuasi
Mengacu pada prakiraan BMKG, pada 20–21 April 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Terutama di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi, serta Papua.
BPBD Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menurunkan tim reaksi cepat setelah banjir pada Sabtu (18/4/2026). Bencana hidrometeorologi cuaca ekstrem di Indonesia, BNPB mengimbau warga melakukan evakuasi. Foto: ist/BPBD Bogor
trustjabar.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat melakukan evakuasi mandiri jika terjadi cuaca ekstrem. Imbauan tersebut berlaku bagi masyarakat di beberapa wilayah yang berpotensi terdampak bencana alam, baik bencana hidrometeorologi basah maupun kering.
Baca Juga : Sebanyak 13 Kecamatan di Kabupaten Bandung Terdampak Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem
Dalam keterangan resminya, Kepala Pusdatinkom Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mencatat beberapa daerah terdampak bencana cuaca ekstrem di Indonesia selama 18 -19 April 2026. Muhari mengklasifikasikan bencana alam yang terjadi itu menjadi dua jenis yakni bencana hidrometeorologi kering dan basah.
“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah ataupun kering. Di wilayah rawan banjir dan cuaca ekstrem, BNPB mengimbau masyarakat rutin memantau informasi cuaca, dan menjaga kebersihan saluran air. Segera lakukan evakuasi apabila terjadi peningkatan debit air atau tanda-tanda bahaya lainnya. Pemerintah daerah perlu memastikan penguatan sistem peringatan dini dan kesiapan jalur evakuasi,” tuturnya, Minggu (19/4/2026).
Dalam kesempatan itu, Muhari memaparkan sejumlah kejadian bencana yang terjadi. Sejumlah kejadian bencana itu dalam periode pemantauan 18 April 2026 pukul 07.00 WIB hingga 19 April 2026 pukul 07.00 WIB. Muhari membenarkan ada beberapa kejadian baru yang berdampak signifikan dan menjadi perhatian bersama dari kejadian bencana hidrometeorologi cuaca ekstrem ini.
Pada Sabtu (18/4/2016), di Provinsi Sulawesi Tengah, cuaca ekstrem terjadi di pesisir pantai. Kejadian itu melanda wilayah Desa Kendek di Kecamatan Banggai Utara dan Desa Lambako. Selain itu, wilayah terdampak lainnya akibat cuaca ekstrem ini terjadi di Pasir Putih, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah.
Secara kronologi, kata Muhari, fenomena ini terjadi pada pukul 03:00 WITA. Menurut hasil asesmen dari keterangan warga, suasana tenang di pesisir berubah seketika menjadi gelombang pasang ekstrem.Gelombang pasang itu menghantam permukiman. Banjir rob disertai gelombang tinggi, telah mengancam deretan hunian warga lainnya yang berada di garis pantai.
“Sebanyak 15 KK (kepala keluarga) terdampak dalam kejadian itu. Sebanyak tujuh rumah mengalami rusak ringan dan delapan rumah rusak berat. Tim Reaksi Cepat BPBD setempat telah melakukan kaji cepat dan asesmen di lokasi terdampak,” ujarnya.
Cuaca Ekstrem Picu Intensitas Hujan di Bogor Jawa Barat
Di wilayah Bogor, Jawa Barat, cuaca ekstrem juga memicu intensitas hujan menjadi tinggi dalam durasi cukup lama pada Sabtu (18/4/2026). Fenomena itu kemudian menyebabkan peningkatan debit air sungai. Akibat luapan debit ait itu merendam pemukiman warga di beberapa kecamatan.
Berdasarkan data yang sementara, banjir berdampak pada lima kecamatan dan tujuh desa. Daerah terdampak bencana hidrometeorologi basah cuaca ekstrem itu di antanya, Desa Barengkok dan Pangaur di Kecamatan Jasinga. Kemudian di Desa Dago dan Jagabaya di Kecamatan Parung Panjang, Desa Kampung Sawah di Kecamatan Rumpin. Selain itu, Desa Ciomas di Kecamatan Tenjo dan Desa Rengasjajar di Kecamatan Cigudeg.
Baca Juga : Belasan Ribu Warga Terdampak Banjir Luapan Sungai Citarum di Dayeuhkolot Kabupaten Bandung
“Total warga terdampak mencapai 469 KK atau 1.614 jiwa. Sebanyak 23 jiwa dari 6 KK sempat mengungsi, sementara 6 jiwa dari 2 KK berada dalam kondisi terancam. Kami juga menerima laporan, 1 orang mengalami luka ringan dalam kejadian itu,” ucap Muhari.
Untuk kerugian materiil, lanjut Muhari, tercatat meliputi 467 rumah terdampak, 2 rumah terancam, dan 2 fasilitas pendidikan terdampak. Selain itu, 4 jembatan terdampak serta 3 titik tembok penahan tanah (TPT) mengalami kerusakan.
“Hingga Minggu (19 April 2026), kondisi banjir berangsur surut dan sebagian besar warga telah kembali ke rumah masing-masing. Akan tetapi, sebagian warga di Desa Rengasjajar masih mengungsi di Masjid Al-Kautsar karena rumah mereka masih dipenuhi lumpur. Akses jalan dan jembatan saat ini sudah dapat dilalui,” ucapnya.
Bencana Hidrometeorologi Kering Picu Kebakaran Hutan dan Lahan
Sementara itu, BNPB juga mencatat kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Di antaranya terjadi di Kelurahan Mansapa, Kecamatan Nunukan Selatan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, Sabtu (18/4/2026). Adapun luas lahan terbakar mencapai kurang lebih 3 hektare. Hingga saat ini, tim gabungan di lapangan masih berupaya melakukan pemadaman di lahan yang mengalami kebakaran.
“Mengacu pada prakiraan BMKG, pada 20–21 April 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Terutama di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi, serta Papua. Hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi pada siang hingga malam hari,” katanya.
Baca Juga : Mengupas El Nino Godzilla yang Bakal Melanda Wilayah Indonesia
Sementara itu, lanjut Muhari, masih berdasarkan laporan BMKG, beberapa wilayah seperti Riau, Kalimantan Utara, dan sebagian Nusa Tenggara cenderung mengalami kondisi lebih kering. Kondisi tersebut memicu potensi peningkatan titik panas (hotspot) yang dapat memicu karhutla.
Muhari menjelaskan, dinamika atmosfer regional memengaruhi perbedaan kondisi cuaca, termasuk peralihan musim (pancaroba). Hal itu yang menyebabkan distribusi hujan tidak merata di Indonesia.
Pada periode ini, kata Muhari, massa udara basah masih memengaruhi sebagian wilayah di Indonesia yang memicu hujan lebat. Sementara wilayah lain mulai mengalami dominasi massa udara kering yang meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
“Selain itu, faktor lokal seperti kondisi tutupan lahan, gambut kering, dan aktivitas manusia turut memperbesar potensi karhutla di wilayah rawan,” tuturnya. (cep/trustjabar/R1)
Komentar
0 komentar untuk Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem di Indonesia, BNPB Imbau Warga Lakukan Evakuasi
Masuk dulu untuk ikut diskusi
Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.