Pasokan Energi Nasional Tetap Aman di Tengah Krisis Selat Hormuz
Wakil Menteri ESDM Yuliot menuturkan cadangan BBM nasional berada di kisaran 27 hingga 28 hari. Pasokan cadangan BBM nasional itu di atas ketentuan minimum 21 hari yang ditetapkan regulasi.
Ilustrasi kendaraan saat mengisi BBM. Pasokan energi nasional tetap aman di tengah krisis Selat Hormuz. Foto: ist/net
trustjabar.com – Indonesia menegaskan posisinya sebagai negara yang mampu menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Pasalnya, saat ini pasokan energi dunia sedang terguncang di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Baca Juga : Tengahi Konflik di Kawasan Teluk, Pakistan Muncul Jadi Mediator Utama Antara AS dan Iran
Kombinasi strategi diversifikasi pasokan, percepatan transisi energi, dan diplomasi internasional menjadi fondasi utama ketahanan Indonesia menghadapi guncangan energi. Akibat konflik yang terjadi di kawasan Teluk itu, telah mendorong harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 50 persen sejak konflik pecah.
Gangguan di Selat Hormuz menjadi pusat kekhawatiran global. Beberapa kapal tanker Pertamina sempat tertahan di kawasan Teluk Persia akibat tingginya risiko pelayaran. Namun pemerintah memastikan stok bahan bakar minyak nasional tetap aman.
Wakil Menteri ESDM Yuliot menuturkan dalam keterangan resminya, cadangan BBM nasional berada di kisaran 27 hingga 28 hari. Pasokan cadangan BBM nasional itu di atas ketentuan minimum 21 hari yang ditetapkan regulasi. BPH Migas juga menegaskan distribusi BBM berjalan lancar tanpa gangguan berarti hingga 22 Maret 2026.
Melansir berbagai sumber, Pertamina telah mengamankan 90 hingga 95 persen pasokan energi nasional melalui kontrak jangka panjang sejak awal tahun. Dengan kapasitas produksi kilang dioptimalkan hingga 1,1 juta barel per hari.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah mengalihkan sebagian sumber impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat.
"Crude dari Timur Tengah sebagian dialihkan, ambil dari Amerika, supaya ada kepastian ketersediaan," Menteri ESDM Bahlil Lahadalia belum lama ini.
Jaga Pasokan Nasional, Indonesia Amankan Komitmen Belanja Energi
Indonesia juga telah mengamankan komitmen belanja energi senilai 15 miliar dolar AS melalui perjanjian dagang dengan AS. Mencakup produk BBM olahan, minyak mentah untuk cadangan nasional, dan sektor LPG.
Analis energi, Filda Citra Yusgiantoro memaparkan mengenai indeks ketahanan energi nasional. Ia menjelaskan, indeks ketahanan energi nasional kini berada di angka 7. Indeks ini meningkat dari 6,7 dua tahun sebelumnya.
Baca Juga : Gubernur Jawa Barat Harus Segera Keluarkan Kebijakan Program Energi Baru Terbarukan
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto membentuk Satuan Tugas Percepatan Transisi Energi pada 5 Maret 2026, dipimpin langsung oleh Menteri Bahlil. Satgas ini menargetkan pembangunan 100 gigawatt pembangkit listrik tenaga surya dan konversi kendaraan listrik dalam tiga hingga lima tahun.
Program ini mencakup penggantian pembangkit diesel di seluruh Indonesia dengan tenaga surya serta konversi kompor LPG ke kompor listrik untuk mengurangi beban subsidi APBN
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan percepatan ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor energi.
"Pak Presiden meminta agar beberapa menteri terkait mempercepat pelaksanaan ini. Sehingga ketergantungan kita terhadap impor, ketergantungan kita terhadap harga yang mungkin cepat berubah itu bisa terkurangi," katanya.
Asumsi harga minyak mentah Indonesia dalam APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel kini jauh di bawah harga aktual pasar. Hal ini menjadikan disiplin fiskal dan percepatan kemandirian energi bukan lagi sekadar opsi kebijakan, melainkan kebutuhan mendesak. (cep/trustjabar/R1)
Komentar
0 komentar untuk Pasokan Energi Nasional Tetap Aman di Tengah Krisis Selat Hormuz
Masuk dulu untuk ikut diskusi
Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.