Rabu, 22 April 2026
Breaking News
DPRD Kabupaten Bandung Gelar Rapat Paripurna Hari Jadi ke-385, Tekankan Sinergi dan Pelestarian Budaya Bupati; Arah Transformasi Pembangunan Kabupaten Bandung Fokus Penguatan Desa Kabupaten Bandung Langganan Bencana Hidrometeorologi Gubernur dan Pengamat Soroti Tata Ruang Anggota DPRD Jawa Barat Soroti Masalah Banjir Kabupaten Bandung Implementasikan Falsafah Sunda Leuweung Hejo Rahayat Ngejo, Mantan Bupati Bandung Bagikan Ratusan Bibit Pohon Produktif Pentahelix dan Realitas Kabupaten Bandung, Saat Masalah tak Kunjung Selesai Mengungkap Fakta Unik Ikan Pari, Predator Laut dengan Kemampuan Deteksi Listrik Mangsa Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem Sergap Kabupaten Bandung, Bupati Ubah Rencana Peringatan Hari Jadi Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem di Indonesia, BNPB Imbau Warga Lakukan Evakuasi Video Proses Penemuan dan Evakuasi Jasad Agus Sutisna Korban Terbawa Arus Sungai Cibanjaran DPRD Kabupaten Bandung Gelar Rapat Paripurna Hari Jadi ke-385, Tekankan Sinergi dan Pelestarian Budaya Bupati; Arah Transformasi Pembangunan Kabupaten Bandung Fokus Penguatan Desa Kabupaten Bandung Langganan Bencana Hidrometeorologi Gubernur dan Pengamat Soroti Tata Ruang Anggota DPRD Jawa Barat Soroti Masalah Banjir Kabupaten Bandung Implementasikan Falsafah Sunda Leuweung Hejo Rahayat Ngejo, Mantan Bupati Bandung Bagikan Ratusan Bibit Pohon Produktif Pentahelix dan Realitas Kabupaten Bandung, Saat Masalah tak Kunjung Selesai Mengungkap Fakta Unik Ikan Pari, Predator Laut dengan Kemampuan Deteksi Listrik Mangsa Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem Sergap Kabupaten Bandung, Bupati Ubah Rencana Peringatan Hari Jadi Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem di Indonesia, BNPB Imbau Warga Lakukan Evakuasi Video Proses Penemuan dan Evakuasi Jasad Agus Sutisna Korban Terbawa Arus Sungai Cibanjaran
Teknologi Serba Serbi Internasional
Penulis: Cep 19 Des 2025

Pertama Kalinya, Teleskop Luar Angkasa Hubble Tangkap Citra Tabrakan Asteroid di Sekitar Bintang Terdekat

Untuk pertama kalinya, Teleskop Luar Angkasa Hubble milik NASA berhasil menangkap citra gambar tabrakan katastropik mirip asteroid.

Gambar komposit Teleskop Luar Angkasa Hubble menunjukkan cincin puing dan awan debu cs1 dan cs2 di sekitar bintang Fomalhaut. Foto: istimewa/net

Gambar komposit Teleskop Luar Angkasa Hubble menunjukkan cincin puing dan awan debu cs1 dan cs2 di sekitar bintang Fomalhaut. Foto: istimewa/net

trustjabar.com - Untuk pertama kalinya, Teleskop Luar Angkasa Hubble milik NASA berhasil menangkap citra gambar tabrakan katastropik antara objek-objek mirip asteroid. Tabrakan katastropik yang terjadi di sistem bintang tetangga itu, memecahkan misteri dua dekade tentang eksoplanet yang menghilang. Rekaman itu juga memberikan jendela langka ke masa-masa awal yang penuh kekerasan dari pembentukan planet.

Baca Juga : NASA Berhasil Rampungkan Perakitan Teleskop Nancy Grace Roman, Ini Misinya!

Sceince langsung menerbitkan temuan rekaman Teleskop Luar Angkasa Hubble tersebut. Hal itu menandai tonggak bersejarah dalam mengamati bagaimana planet-planet terbentuk.

Mengutip dari laman resmi NASA pada Jumat (19/12/2025), Teleskop Luar Angkasa Hubble menangkap dampak dari dua tabrakan besar di sekitar Fomalhaut. Salah satu bintang paling terang di langit malam yang terletak 25 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Piscis Austrinus.

Tabrakan tersebut melibatkan planetesimal—blok bangunan berbatu dari planet—masing-masing berdiameter sekitar 37 mil. Menciptakan awan debu raksasa yang awalnya menyamar sebagai planet.

Paul Kalas, peneliti utama di University of California, Berkeley mengaku untuk pertama kalinya ia  melihat titik cahaya muncul di sistem eksoplanet. Ia juga tidak mengetahui cahaya itu muncul dari mana.

"Titik cahaya itu tidak ada di semua gambar Hubble (Teleskop Luar Angkasa milik NASA) kami sebelumnya. Yang berarti, kami baru saja menyaksikan tabrakan dahsyat antara dua objek masif dan awan puing besar,” katanya.

Temuan Rekaman Teleskop Luar Angkasa Hubble Memecahkan Misteri Kosmik

Penemuan citra Teleskop Luar Angkasa Hubble ini menyelesaikan kebingungan seputar Fomalhaut b. Sebuah objek yang pertama kali terlihat pada 2008 yang dirayakan sebagai salah satu eksoplanet pertama yang tercitrakan secara langsung.

Baca Juga : Apple Rilis Pico Banana 400K, Berisi 400 Ribu Gambar Terkurasi

Namun pada 2013, para astronom memperhatikan jalur objek tersebut telah melengkung menjauh dari bintang. Lebih mirip partikel debu yang terdorong cahaya bintang daripada planet padat. Arsip eksoplanet resmi NASA menghapusnya dari daftar pada 2020.

Pada tahun 2023, Teleskop Luar Angkasa Hubble mengungkapkan titik terang kedua di lokasi yang serupa berjuluk sumber sirkum stellar 2 (cs2). Sementara objek asli yang sekarang yakni cs1, telah menghilang.

Jason Wang, seorang astrofisikawan di Northwestern University dan rekan penulis studi, mengkonfirmasi, titik baru tersebut tidak mungkin menjadi objek yang sama. Tim tersebut menyimpulkan, keduanya adalah awan debu yang mengembang dari tabrakan planetesimal yang dahsyat, bukan planet. Frekuensi peristiwa ini telah mengejutkan para peneliti.

"Teori menunjukkan bahwa seharusnya ada satu tabrakan setiap 100.000 tahun, atau lebih lama. Di sini, dalam 20 tahun, kita telah melihat dua," kata Kalas.

Sebuah Laboratorium Alami

Mark Wyatt, seorang teoritikus di University of Cambridge menjelaskan dampak pengamatan dari Teleskop Luar Angkasa Hubble tersebut. Memungkinkan para peneliti memperkirakan baik ukuran benda-benda yang bertabrakan maupun berlimpahnya informasi yang hampir mustahil diperoleh dengan cara lain.

Tim tersebut memperkirakan 300 juta planetesimal dengan ukuran serupa mengorbit Fomalhaut. Dengan pengamatan sebelumnya, mendeteksi gas karbon monoksida yang menunjukkan objek-objek ini kaya akan zat volatile. Serupa dalam komposisi dengan komet es di tata surya.

Baca Juga : Tahun Depan, Apple Disebut-sebut Bakal Segera Luncurkan iPhone Fold

Pada usia 440 juta tahun, Fomalhaut menawarkan sekilas pandangan tentang masa lalu Bumi yang penuh kekerasan.

"Ketika tata surya kita berusia 440 juta tahun, ia dipenuhi dengan planetesimal yang saling bertabrakan. Ini seperti melihat ke masa lalu dalam arti tertentu, ke periode kekerasan tata surya kita ketika usianya kurang dari satu miliar tahun," kata Kalas.

Kalas telah diberikan waktu selama tiga tahun ke depan untuk mengamati Fomalhaut dengan Teleskop Luar Angkasa Hubble. Selain itu, Kalas juga melakukan pengamatan melalui Near-Infrared Camera milik James Webb Space Telescope.

Pengamatan Agustus 2025 mengkonfirmasi cs2 tetap terlihat dan sudah 30 persen lebih terang dari cs1. Kemampuan inframerah Webb dapat mengungkapkan ukuran butiran debu, komposisinya, dan berpotensi mendeteksi es air.

Penemuan ini juga berfungsi sebagai kisah peringatan untuk misi-misi pencarian eksoplanet di masa depan. "Fomalhaut cs2 terlihat persis seperti planet ekstrasurya yang memantulkan cahaya bintang. Apa yang kami pelajari dari mempelajari cs1 adalah bahwa awan debu besar dapat menyamar sebagai planet selama bertahun-tahun," kata Kalas. (cep/trustjabar/R1)

Komentar

0 komentar untuk Pertama Kalinya, Teleskop Luar Angkasa Hubble Tangkap Citra Tabrakan Asteroid di Sekitar Bintang Terdekat

Masuk dulu untuk ikut diskusi

Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memulai diskusi.