Konflik Timur Tengah, Tiga Sektor Ekonomi Nasional Hadapi Dampak Nyata
Eskalasi konflik di Timur Tengah melibatkan AS dan Israel terhadap Iran mulai menimbulkan dampak nyata terhadap perekonomian Indonesia.
Ilustrasi industri manufaktur. Konflik Timur Tengah, tiga sektor ekonomi nasional kini menghadapi dampak nyata. Foto: ist/net
trustjabar.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mulai menimbulkan dampak nyata terhadap perekonomian Indonesia. Gangguan terjadi di tiga sektor perindustrian sekaligus.
Baca Juga : Menaker Yassierli Tinjau Program Magang Nasional 2026 di PTDI Bandung
Ketiga sektor yang turut terdampak itu yakni industri manufaktur, likuiditas valuta asing perbankan, serta industri asuransi perjalanan. Industri manufaktur bergantung pada bahan baku impor, sedangkan likuiditas valuta asing perbankan yang tertekan aksi penarikan dana investor global. Kemudian asuransi perjalanan menghadapi ketidakpastian klaim.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, konflik Timur Tengah berpotensi memicu volatilitas harga energi global. Selain itu, dampak konflik itu pun turut mengganggu jalur perdagangan internasional.
"Setiap eskalasi konflik berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri. Serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur," ujarnya dalam keterangan tertulisnya.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan di kawasan itu langsung memukul industri yang bergantung pada energi. Seperti petrokimia, logam dasar, semen, dan pupuk.
Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mempertegas bahwa dampak logistik sudah dirasakan seluruh industri. Sementara itu, menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, seperempat impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah. Kawasan itu juga memasok 30 persen kebutuhan LPG nasional.
OJK Imbau Perkuat Manajemen Risiko Hadapi Rambatan Konflik Timur Tengah
Ketegangan geopolitik memicu aksi penarikan dana oleh investor global dari pasar keuangan Indonesia. Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia, mengatakan permintaan valas meningkat akibat aksi profit taking dan risk averse.
Baca Juga : PTDI Panen Perdana Sorgum di Cirebon, Perkuat Ketahanan Pangan Jabar
"Ada yang keluar dari pasar untuk melakukan aksi risk averse, sehingga tentu memengaruhi posisi likuiditas valas di dalam negeri," ungkapnya.
Di sektor asuransi, konflik Timur Tengah memunculkan persoalan tersendiri. PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) memastikan klaim asuransi perjalanan terkait pembatalan penerbangan masih dalam batas wajar.
Namun Sekretaris Perusahaan Jasindo Brellian Gema Widayana menegaskan bahwa risiko yang timbul akibat perang atau konflik bersenjata pada umumnya termasuk dalam pengecualian polis.
OJK meminta seluruh lembaga jasa keuangan untuk memperkuat manajemen risiko. OJK meminta lembaga keuangan melakukan stress testing di berbagai skenario menghadapi dampak rambatan konflik Timur Tengah ini. (cep/trustjabar/R1)
Komentar
0 komentar untuk Konflik Timur Tengah, Tiga Sektor Ekonomi Nasional Hadapi Dampak Nyata
Masuk dulu untuk ikut diskusi
Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.