Jumat, 17 April 2026
Breaking News
Video Proses Penemuan dan Evakuasi Jasad Agus Sutisna Korban Terbawa Arus Sungai Cibanjaran Video Aksi Heroik Warga Berupaya Menolong Korban Terbawa Hanyut Arus Aliran Sungai Cibanjaran Kabupaten Bandung Hanyut Terbawa Aliran Sungai Cibanjaran, Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Agus Sutisna Terbawa Arus Aliran Sungai Cibanjaran Kabupaten Bandung, 1 Meninggal dan 1 Orang Masih Pencarian Tim SAR Gabungan Dirut PT BDS Jadi Tersangka Dugaan Korupsi, Ada Persoalan Serius dalam Tata Kelola dan Pengawasan BUMD Kabupaten Bandung Dirut PT BDS Jadi Tersangka dalam Dugaan Korupsi, Praktisi Hukum Dorong Kejari Kabupaten Bandung Usut Tuntas Kasus Kejari Kabupaten Bandung Tetapkan Direktur Utama PT BDS Jadi Tersangka Wakil Ketua DPRD; Kabupaten Bandung Masuk Kategori Darurat Sampah! Sebanyak 13 Kecamatan di Kabupaten Bandung Terdampak Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem Belasan Ribu Warga Terdampak Banjir Luapan Sungai Citarum di Dayeuhkolot Kabupaten Bandung Video Proses Penemuan dan Evakuasi Jasad Agus Sutisna Korban Terbawa Arus Sungai Cibanjaran Video Aksi Heroik Warga Berupaya Menolong Korban Terbawa Hanyut Arus Aliran Sungai Cibanjaran Kabupaten Bandung Hanyut Terbawa Aliran Sungai Cibanjaran, Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Agus Sutisna Terbawa Arus Aliran Sungai Cibanjaran Kabupaten Bandung, 1 Meninggal dan 1 Orang Masih Pencarian Tim SAR Gabungan Dirut PT BDS Jadi Tersangka Dugaan Korupsi, Ada Persoalan Serius dalam Tata Kelola dan Pengawasan BUMD Kabupaten Bandung Dirut PT BDS Jadi Tersangka dalam Dugaan Korupsi, Praktisi Hukum Dorong Kejari Kabupaten Bandung Usut Tuntas Kasus Kejari Kabupaten Bandung Tetapkan Direktur Utama PT BDS Jadi Tersangka Wakil Ketua DPRD; Kabupaten Bandung Masuk Kategori Darurat Sampah! Sebanyak 13 Kecamatan di Kabupaten Bandung Terdampak Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem Belasan Ribu Warga Terdampak Banjir Luapan Sungai Citarum di Dayeuhkolot Kabupaten Bandung
Ruang Publik
Penulis: Publik 06 Jan 2026

Fenomena Job Hugging, Antara Rasa Aman dan Stagnasi Karier

Di tengah ketatnya persaingan dunia kerja di Indonesia, munculah fenomena menarik job hugging, istilah menjadi perbincangan generasi muda.

Risda

Risda

PERNAHKAH kamu merasakan keinginan untuk resign dari pekerjaan, namun terus menunda karena khawatir kehilangan sumber pendapatan? Atau mungkin kamu adalah  seseorang yang setiap hari mengeluh tentang pekerjaannya, tetapi tetap berangkat ke kantor dengan cara yang sama setiap harinya.

Fenomena ini sekarang dikenal dengan sebutan job hugging Di tengah ketatnya persaingan dunia kerja di Indonesia, munculah fenomena menarik yang disebut job hugging, sebuah istilah yang banyak diperbincangkan di kalangan generasi muda.

Mengutip dari laman Tempo.co, fenomena ini berbanding terbalik dengan job hopping atau berpindah kerja demi kenaikan gaji. Pada 2021 hingga 2022, job hopping lebih populer, namun kini makin jarang karena generasi muda takut melepaskan pekerjaan.

Said Iqbal menilai tekanan ekonomi dan ketidakpastian lapangan kerja baru memicu pergeseran tren tersebut. Minimnya pembukaan lapangan kerja juga menambah keraguan pekerja muda untuk keluar.

Bagi sejumlah pemuda, memiliki pekerjaan kini bukan sekadar tentang pertumbuhan, melainkan bertahan hidup. Rasa nyaman yang diperoleh dari gaji yang rutin dan suasana kerja yang stabil mendorong banyak individu untuk tetap di tempat. Meskipun di dalam diri mereka muncul rasa jenuh dan kehilangan gairah.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berdiskusi dengan seorang rekan di tempat pekerjaan. Ia mengungkapkan rasa lelahnya akan rutinitas yang tidak ada akhirnya. Target yang selalu ada, dan suasana kerja yang menghambatnya untuk berkembang.

Namun, saat saya bertanya apakah dia berencana mencari pekerjaan baru? Jawabannya singkat, “ Belum ada keberanian, Ris.” Pernyataan itu terngiang di pikiran saya cukup lama. Teman saya bukan satu-satunya yang mengalami perasaan semacam ini. Banyak pekerja muda dihadapkan pada masalah yang sama antara keinginan untuk pergi dan kebutuhan untuk bertahan.

Dari berbagai cerita seperti ini, saya belajar bahwa “menjaga pekerjaan”  adalah hasil dari ketidakpuasan dan ketakutan karena kondisi ekonomi yang tidak menentu. Bagi sebagian orang, tetap berada di posisi yang tidak memuaskan terasa lebih aman daripada memulai dari awal.

Bekerja Meski Tidak Bahagia?

Saat pekerja, terutama milenial dan Gen Z, bertahan di pekerjaan meski tidak bahagia karena takut kehilangan stabilitas di tengah ekonomi sulit. Data BPS per Agustus 2025 menunjukkan pengangguran 4,8% atau 7,46 juta orang, dengan angka lebih tinggi bagi anak muda (22% untuk usia 15–19 tahun). Pengangguran sarjana naik menjadi 13,89% pada Februari 2025, plus 44 ribu PHK sampai Agustus.

Survei BI menunjukkan lapangan kerja pesimis (indeks 93,2 poin), membuat orang enggan pindah kerja demi gaji tetap. Sektor informal menyerap 59% pekerja, tetapi upah stagnan.

Fenomena job hugging (memeluk pekerjaan) muncul antara ketidakpastian ekonomi, risiko keuangan, ketakutan akan perubahan, zona nyaman. Kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan mendorong para pekerja untuk tetap di posisi yang tidak memuaskan demi memperoleh stabilitas.

Walau merasa stagnan atau tidak bahagia, mereka khawatir menghadapi ketidakpastian di pasar kerja dan kesulitan mencari pekerjaan yang lebih baik, terutama dengan meningkatnya biaya hidup.

Fenomena ini adalah pengingat bagi pemerintah bahwa keberhasilan ekonomi tidak semata-mata ukuran jumlah lapangan kerja yang tersedia. Tetapi juga dari kualitas dan rasa aman yang dirasakan oleh para pekerja.

Kebijakan ketenagakerjaan seharusnya memberikan ruang bagi pekerja untuk merasa aman dan memiliki peluang untuk maju. Ini menunjukkan bagi perusahaan bahwa mereka harus lebih memprioritaskan kesejahteraan karyawan dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih humanis. Karyawan yang bahagia cenderung lebih produktif dibandingkan dengan karyawan yang hanya bertahan karena takut kehilangan pekerjaan.

Sementara itu, untuk individu, fenomena job hugging ini dapat berfungsi sebagai momen untuk introspeksi. Tidak semua orang mampu segera meninggalkan pekerjaan yang tidak memuaskan, dan itu adalah hal yang wajar.

Namun, penting untuk menyadari kapan bertahan merupakan langkah adaptasi, dan kapan hal tersebut beralih menjadi bentuk penyangkalan. Mungkin tidak semua individu dapat langsung berani untuk berpindah. Tetapi setiap orang dapat mulai mengambil langkah-langkah kecil untuk menciptakan keseimbangan hidup yang lebih baik antara kebutuhan finansial dan kebahagiaan pribadi.

Bekerja adalah Menjalani Hidup yang Bermakna

Fenomena ini sebenarnya bukan soal benar atau salah, tetapi tentang bagaimana kita berkolaborasi untuk memahami kembali makna dari bekerja. Bekerja seharusnya tidak sekadar untuk bertahan hidup, melainkan juga untuk menjalani kehidupan yang bermakna.

Menurut pandangan saya, komitmen terhadap pekerjaan bukan berarti terpaku pada satu posisi atau tempat. Lebih dari itu, pekerjaan merupakan dedikasi terhadap perjalanan karier itu sendiri dan proses untuk terus berkembang serta belajar. Pada dasarnya, karier adalah wadah di mana seseorang menjalani pertumbuhan, menemukan makna, dan menantang diri untuk mencapai level yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, pekerjaan itu mirip dengan cinta: ada perasaan aman, nyaman, dan bahagia di dalamnya. Namun, seperti cinta, apabila perasaan tersebut sirna dan yang tersisa hanyalah kelelahan, mungkin saatnya untuk berhenti sejenak dan merenungkan apakah yang kita pertahankan masih memiliki arti, atau hanya membuat kita takut untuk kehilangan. (Penulis; Risda, Mahasiswa aktif  Universitas: Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) Program Studi: Ilmu Komunikasi)

Komentar

0 komentar untuk Fenomena Job Hugging, Antara Rasa Aman dan Stagnasi Karier

Masuk dulu untuk ikut diskusi

Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memulai diskusi.