Industri Kakao Indonesia Hadapi Krisis Multidimensi, Angka Produksi Anjlok!
Industri kakao Indonesia menghadapi krisis multidimensi yang menekan produksi, menutup pabrik pengolahan, dan merugikan petani.
Petani kakao di Arjasari Kabupaten Bandung, Jawa Barat, berkeliling di kebun kakao miliknya. Industri kakao Indonesia menghadapi krisis multidimensi karena angka produksi yang terus anjlok. Foto: ecp/trustjabar
trustjabar.com – Akibat produksi kakao Indonesia menurun drastis, memaksa Indonesia turun peringkat di jajaran negara penghasil bahan baku utama pembuatan cokelat dunia. Jika sebelumnya Indonesia menempati urutan kedua dunia, kini Indonesia menempati rangking ketujuh.
Baca Juga : Utang Proyek KCJB Bebani Konsorsium Pemegang Saham PT KCIC
Sebagai informasi, produksi kakao Indonesia saat ini sekitar 200 ribu ton per tahun, turun dari puncaknya 590 ribu ton pada 2005-2006. Akibatnya, sembilan dari 20 pabrik pengolahan kakao terpaksa berhenti produksi karena kurangnya bahan baku. Kini, hanya ada 11 pabrik pengolahan kakao yang masih berupaya bertahan. Kini, industri kakao nasional menghadapi krisis multidimensi yang menekan produksi, menutup pabrik pengolahan, dan merugikan petani.
Beberapa pengamat menuturkan, penurunan produksi kakao nasional karena rendahnya kualitas kakao. Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economic, Eliza Mardian mengungkap, alasan rendahnya kualitas kakao di Indonesia ini.
“Akar permasalahan rendahnya kualitas biji kakao nasional ini mayoritasnya karena tidak difermentasi. Hanya sepuluh persen kakao Indonesia yang melewati proses fermentasi dengan baik. Secara ekonomi, ini adalah hilangnya nilai tambah. Kita menjual bahan mentah murah dalam bentuk biji kakao. Sementara negara lain seperti Swiss meraup keuntungan dari pengolahan,” ungkap Eliza beberapa waktu lalu.
Ia mengungkap alasan rendahnya tingkat fermentasi kakao di Indonesia lantaran tidak adanya insentif harga bagi petani. Pasalnya, harga kakao fermentasi dengan yang tidak difermentasi hampir tidak jauh berbeda. Dengan demikian, hal itu tidak menjadi dorongan bagi petani melakukan proses fermentasi.
Kondisi ini membuat kakao Indonesia kalah bersaing di pasar premium seperti Eropa yang menuntut ketertelusuran tinggi. Produktivitas rendah menjadi tantangan utama produksi kakao nasional. Rata-rata saat ini hanya 500 hingga 700 kilogram per hektare per tahun. Jauh di bawah potensi dua ribu kilogram per hektare.
“Hampir 99 persen kakao Indonesia diproduksi perkebunan rakyat. Sehingga kualitasnya sangat tergantung petani. Keterbatasan modal petani memperparah kondisi. Karena mayoritas menggunakan pohon kakao tua dan tidak produktif,” tuturnya.
Penurunan Produksi Kakao, Indonesia Terpaksa Impor
Penurunan produksi kakao ini, memaksa Indonesia meningkatkan impor biji kakao hingga 157 ribu ton pada 2024. Sebanyak 63 persen dari total impor kakao ini berupa biji mentah. Sebagian besar impor merupakan kakao fermentasi yang menjadi kebutuhan industri pengolahan.
Baca Juga : Pemerintah Terapkan Kebijakan Pencampuran Etanol E10 di Semua Bahan Bakar Berbasis Bensin
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan Widiastuti mengungkapkan target ambisius. Pemerintah merespons krisis dengan program replanting masif seluas 248.500 hektare hingga 2027 menggunakan APBN dan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Program ini terdiri dari 4.266 hektare pada 2025, kemudian 175.500 pada 2026, dan 68.734 hektare pada 2027.“Saat ini kita di peringkat ketujuh (produksi kakao Indonesia) dengan produksi 200 ribu ton. Jika targetnya kembali ke peringkat kedua, berarti sekitar dua tahun setelah replanting diharapkan produksi bisa mencapai 500 ribu ton,” katanya.
Sebagai informasi, pada 23 Oktober 2025 harga kakao global mengalami volatilitas ekstrem dari US$ 11.000 menjadi US$ 6.389 per ton.
Meski harga kakao global mengalami volatilitas ekstrem mengalami penurunan, krisis struktural memerlukan solusi jangka panjang. Upaya tersebut di antaranya melalui peningkatan kualitas, fermentasi yang tepat, dan dukungan modal bagi petani. Hal itu untuk memulihkan kejayaan kakao Indonesia. (ecp/trustjabar/R1)
Komentar
0 komentar untuk Industri Kakao Indonesia Hadapi Krisis Multidimensi, Angka Produksi Anjlok!
Masuk dulu untuk ikut diskusi
Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.