Konflik di Timur Tengah Picu Krisis Energi Terburuk, WFP PBB Waspadai Kelaparan Akut
Blokade Selat Hormuz telah menghentikan hampir seluruh lalu lintas kapal tanker di jalur tersebut. Akibatnya berdampak pada potensi gangguan krisis energi global. Menurut data yang dirilis Badan Energi Internasional, ini merupakan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Presiden AS Donald Trump. Konflik di Timur Tengah picu krisis energi terburuk, WFP PBB Waspadai Kelaparan Akut. Foto: net/
trustjabar.com - Perang di Timur Tengah yang memasuki pekan keempat telah memicu krisis energi terburuk sejak 1970-an dan mengancam kelaparan puluhan juta orang di seluruh dunia. Pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran, membuat harga minyak melonjak drastis sementara pasokan pangan global semakin terancam.
Baca Juga : Dampak Konflik Amerika Serikat dan Israel Terhadap Iran Setelah Memasuki Pekan Ketiga
Potensi krisis energi bermula pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran dalam Operasi Epic Fury. Dalam operasi militer menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS serta wilayah Israel dan negara-negara Teluk, sekaligus memblokade Selat Hormuz.
Melansir berbagai sumber, eskalasi terbaru terjadi pada Sabtu (21/3/2026) ketika Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran. Ancaman itu akan Trump tempuh jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam.
Iran kemudian membalas dengan peringatan bahwa infrastruktur energi di seluruh kawasan akan menjadi target jika pembangkit listriknya diserang. Pernyataan balasan itu diungkapkan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melalui unggahan di X.
Blokade Selat Hormuz telah menghentikan hampir seluruh lalu lintas kapal tanker di jalur tersebut. Akibatnya berdampak pada potensi gangguan krisis energi global. Menurut data yang dirilis Badan Energi Internasional, ini merupakan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 50 persen dan sempat menyentuh sekitar 120 dolar Amerika per barel. Ekspor minyak dari kawasan Teluk, yang sebelumnya mencapai 25 juta barel per hari, turun sekitar 60 persen per pertengahan Maret.
Qatar terpaksa menghentikan produksi gas setelah serangan pesawat nirawak Iran merusak kompleks gas Ras Laffan. Sementara Irak, Kuwait, dan Bahrain menyatakan keadaan force majeure atas kontrak energi mereka.
Dampaknya ketegangan ini terasa hingga Afrika. Negara-negara seperti Zimbabwe, menaikkan harga bahan bakar hingga 27 persen. Sementara Zambia memiliki cadangan bensin yang hanya cukup untuk 23 hari.
Jika Perang Timur Tengah Berkepanjangan tak Hanya Timbulkan Potensi Krisis Energi
Program Pangan Dunia (WFP) PBB memperingatkan, jika konflik di Timur Tengah berlanjut hingga pertengahan tahun dan harga minyak tetap di atas 100 dolar Amerika per barel. Tambahan 45 juta orang bisa terjerumus ke dalam kelaparan akut, mendorong total global menjadi rekor 363 juta orang.
Baca Juga : Pyongyang Anggap Serangan AS dan Israel ke Iran Sebagai Tindakan Agresi Ilegal
“Sebelum perang ini pun, kita sudah berada dalam badai sempurna. Di mana kelaparan tidak pernah separah ini,” kata Wakil Direktur Eksekutif WFP Carl Skau.
Di Afghanistan, di mana Iran memasok 30 persen kebutuhan impor termasuk pangan dan bahan bakar. Harga sayuran dan minyak goreng telah melonjak 13 persen dalam sebulan terakhir.
Di Gaza, harga paprika, kentang, dan bawang meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam dua pekan akibat penutupan perbatasan Rafah yang memperparah dampak perang. Selat Hormuz juga menangani 40 persen pengiriman pupuk global, mengancam musim tanam di Afrika sub-Sahara yang sangat bergantung pada impor pupuk. (cep/trustjabar/R1)
Komentar
0 komentar untuk Konflik di Timur Tengah Picu Krisis Energi Terburuk, WFP PBB Waspadai Kelaparan Akut
Masuk dulu untuk ikut diskusi
Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.