Sabtu, 06 Juni 2026
Breaking News
Pegadaian Timor Leste Tumbuh Pesat, Kanwil Jabar Siap Perkuat Dukungan Operasional Pemprov Jawa Barat Antisipasi Ancaman Kemarau Panjang Dampak El Nino Ekstrem Pemkab Bandung Menjamin Pelaksanaan SPMB 2026 Terhindar Praktik Pungli Wajib Tahu, Berikut Ini Tahapan Pelaksanaan SPMB Tahun Ajaran 2026 di Kabupaten Bandung Tesla Kembali Rebut Posisi Puncak Kendaraan Listrik Global, Pangsa Pasar BYD Menukik Lebih dari Sekadar Pemanis Wajah, Mengungkap Fakta Unik dan Keajaiban Sensorik di Balik Kumis Kucing Pemkab Bandung Sudah Punya Perda Pesantren Namun Masih Gamang, Bupati Beberkan Alasannya Vintage Market Vol 5 Sajikan Barang Langka Bernilai Tinggi Pegadaian Jabar Salurkan 355 Paket Daging Kurban untuk Warga Bupati Bandung Anggap Penanganan Sedimentasi Dukung Efektivitas Pengendalian Banjir Sungai Citarum Pegadaian Timor Leste Tumbuh Pesat, Kanwil Jabar Siap Perkuat Dukungan Operasional Pemprov Jawa Barat Antisipasi Ancaman Kemarau Panjang Dampak El Nino Ekstrem Pemkab Bandung Menjamin Pelaksanaan SPMB 2026 Terhindar Praktik Pungli Wajib Tahu, Berikut Ini Tahapan Pelaksanaan SPMB Tahun Ajaran 2026 di Kabupaten Bandung Tesla Kembali Rebut Posisi Puncak Kendaraan Listrik Global, Pangsa Pasar BYD Menukik Lebih dari Sekadar Pemanis Wajah, Mengungkap Fakta Unik dan Keajaiban Sensorik di Balik Kumis Kucing Pemkab Bandung Sudah Punya Perda Pesantren Namun Masih Gamang, Bupati Beberkan Alasannya Vintage Market Vol 5 Sajikan Barang Langka Bernilai Tinggi Pegadaian Jabar Salurkan 355 Paket Daging Kurban untuk Warga Bupati Bandung Anggap Penanganan Sedimentasi Dukung Efektivitas Pengendalian Banjir Sungai Citarum
TrustJabar
Gaya Hidup Serba Serbi
Penulis: Iman05 Sep 2025

Kaset Pita; Dari Primadona Musik hingga Ikon Nostalgia

Sebelum layanan streaming digital menguasai dunia musik,  kaset pita sempat merajai industri hiburan global dan gaya hidup.

Kaset pita yang dulu menjadi primadona,, kini jadi ikon nostalgia.

Kaset pita yang dulu menjadi primadona,, kini jadi ikon nostalgia.

trustjabar.com - Sebelum layanan streaming digital menguasai dunia musik,  kaset pita sempat merajai industri hiburan global. Media berbentuk kotak plastik kecil berisi pita magnetik ini bukan hanya berfungsi sebagai penyimpan lagu, tetapi juga menghadirkan gaya hidup yang khas di masanya.

Baca Juga: Puaskan Pengguna, Google Terus Update Fitur Edit Gambar di Gemini 2,5 Flash Image

Kaset pita lahir pada tahun 1963 di Eropa melalui inovasi perusahaan Philips. Teknologi sederhana namun revolusioner ini memungkinkan pita magnetik merekam suara dan memutarnya kembali.

Setahun kemudian, kaset pita mulai memproduksi secara massal berawal di Hanover, Jerman. Tak butuh waktu lama untuk menembus pasar Amerika Serikat. Dengan sistem side A dan side B, satu kaset bisa memuat hingga belasan lagu.

Format praktis ini membuat masyarakat berbondong-bondong meninggalkan piringan hitam yang besar dan kurang fleksibel. Pada era 1970–1990-an, kaset mencapai puncak kejayaannya dan benar-benar mendominasi industri musik.

Seiring waktu, kaset tidak berhenti berinovasi. Penggunaan teknologi Dolby pada 1970-an membantu mengurangi noise dan membuat suara lebih jernih. Selain itu, produsen mulai menggunakan pita berbahan oksida logam agar hasil rekaman semakin berkualitas. Hal ini membuat musisi dunia, termasuk di Indonesia, memilih kaset sebagai media utama untuk merilis karya.

Masa Keemasan Kaset Pita

Puncak popularitas kaset terjadi pada dekade 1980-an. Kehadiran pemutar portabel Sony Walkman membuat kaset semakin digemari. Dengan Walkman, anak muda bisa mendengarkan musik kapan saja, di mana saja.

Di Indonesia, kaset menggeser dominasi piringan hitam rilisan Lokananta. Dari era kaset lahir deretan album legendaris milik Dewa 19, Jamrud, hingga Padi yang terjual jutaan kopi. Tidak heran jika masa itu sering adalah era emas industri musik Tanah Air.

Kaset di masa jayanya hadir dalam dua versi. Kaset original tampil eksklusif dengan sampul berisi lirik lagu, foto musisi, serta ucapan terima kasih. Sementara itu, kaset bajakan beredar dengan harga jauh lebih murah, meski kualitas suara dan kemasan seadanya.

Baca Juga: Kelahiran Anak Harimau Benggala Tambah Koleksi Satwa di Bandung Zoo

Di awal 2000-an, kaset original biasanya dijual Rp15.000–Rp20.000, sedangkan bajakan hanya Rp5.000. Selain kaset album, kaset kosong juga populer karena memberi kesempatan bagi penggemar untuk merekam lagu favorit dari radio atau menyalin koleksi teman.

Kaset bukan sekadar media musik, melainkan simbol gaya hidup. Banyak orang membawa radio kaset ke berbagai tempat, bahkan ada yang memanggulnya di bahu sambil berjoget. Fenomena unik lainnya adalah "pensil dan kaset".

Pensil sering alat familiar untuk menggulung kembali pita yang kusut, sebuah trik sederhana yang membuat generasi kaset tersenyum saat mengenangnya. Meski pita kaset kerap putus dan harus disambung dengan lem atau solatip, daya tariknya tidak pernah pudar. Walkman tetap menjadi ikon anak gaul 1990-an yang selalu ingin tampil trendi dengan musik di telinga.

Hari ini, kaset pita memang tidak lagi menjadi raja. Kehadiran CD, MP3, hingga streaming digital perlahan meminggirkan perannya. Namun, bagi sebagian orang, kaset tetap menyimpan nilai emosional.

Ia menjadi bagian dari perjalanan sejarah musik sekaligus simbol nostalgia yang mengingatkan kita pada masa ketika memutar musik bukan hanya soal mendengarkan, tetapi juga tentang gaya hidup. (Iman/trustjabar/R3)

Komentar

0 komentar untuk Kaset Pita; Dari Primadona Musik hingga Ikon Nostalgia

Masuk dulu untuk ikut diskusi

Akun pembaca dipakai khusus untuk komentar artikel.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memulai diskusi.