Konflik Timur Tengah, Indonesia Siapkan Skenario Ekonomi
Pemerintah Indonesia memperkuat langkah antisipasi terhadap dampak ekonomi yang berpotensi meluas akibat eskalasi konflik Timur Tengah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Menghadapi konflik Timur Tengah, Indonesia menyiapkan beberapa skenario ekonomi. Foto: ist/net
trustjabar.com – Pemerintah Indonesia memperkuat langkah antisipasi terhadap dampak ekonomi yang berpotensi meluas akibat eskalasi konflik Timur Tengah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah skenario menghadapi berbagai kemungkinan durasi konflik.
Baca Juga : Konflik Timur Tengah, Tiga Sektor Ekonomi Nasional Hadapi Dampak Nyata
"Sampai kapannya perang bisa tiga bulan, bisa enam bulan, bisa lebih. Jadi kita masing-masing sudah ada skenario," ujar Airlangga dalam keterangan resminya di Jakarta.
Pemerintah, kata ia, memastikan subsidi energi tetap berlanjut dan menggunakan APBN sebagai penyangga fluktuasi harga. Meski Airlangga menilai dampak penuh konflik masih terlalu pagi untuk disimpulkan.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pihaknya terus memantau dampak konflik Timur Tengah terhadap sektor manufaktur Indonesia.
Penutupan Selat Hormuz sebagai jalur seperlima pasokan minyak global, menjadi perhatian utama. Hal itu karena berpotensi memicu lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok.
"Penguatan industri hulu dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri menjadi sangat penting. Agar industri manufaktur Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan global yang rentan terhadap gejolak geopolitik," kata Agus.
Pemerintah, kata ia, juga mendorong percepatan transformasi menuju industri hijau untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Perbankan Sikapi Dinamika Geopolitik Global Dampak Konflik Timur Tengah
Dari sektor perbankan, BNI menyatakan terus memantau dinamika geopolitik global dan dampaknya terhadap pasar keuangan. Bank pelat merah ini memasuki periode ketidakpastian dengan fundamental yang solid dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,7 persen pada akhir 2025. Sementara rasio kredit bermasalah (NPL) membaik ke level 1,9 persen.
"Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular. Selain itu melakukan penanganan kredit bermasalah secara dini," ujar Direktur Finance and Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena.Baca Juga : Meski Kapasitas Penampungan Terbatas, Pemerintah Pastikan Cadangan BBM Nasional Aman
BNI juga melakukan stress testing secara rutin untuk memastikan ketahanan modal terhadap perubahan makroekonomi.Ekonom Indef Rizal Taufikurahman menilai eskalasi konflik Timur Tengah memberi tekanan berlapis pada ekonomi Indonesia melalui tiga jalur. Ketiga jalur ini yakni energi, kurs, dan fiskal.
Perhitungan Indef menunjukkan dalam skenario berat, kebutuhan subsidi energi bisa melonjak dari Rp 210,1 triliun menjadi Rp278,59 triliun. Bank Indonesia sendiri telah melakukan intervensi melalui transaksi spot dan Non-Deliverable Forward untuk menjaga stabilitas rupiah. (cep/trustjabar/R1)
Komentar
0 komentar untuk Konflik Timur Tengah, Indonesia Siapkan Skenario Ekonomi
Masuk dulu untuk ikut diskusi
Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.