Kenaikan Harga Beras Medium dan Premium, Penjual di Pasar Tradisional di Kabupaten Bandung Terkena Dampak
Kenaikan harga beras di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mulai memberikan dampak kepada masyarakat.
Harga beras medium dan premium di beberapa pasar tradisional di Kabpuaten Bandung, Jawa Barat, naik. Hal itu pun berdampak pada penurunan omzet pedagang lantaran konsumen mengurangi pembelian. Foto: ilustrasi/net
trustjabar.com – Kenaikan harga beras di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mulai memberikan dampak, baik kepada penjual maupun pembeli. Diduga, kenaikan harga ini lantaran menipisnya pasokan di pasaran.
Baca Juga : Harga Beras di Bandung Raya Stabil, Polda Jabar Pastikan Stok Aman
Menurut pengakuan seorang pedagang beras di Pasar Soreang, Suhendar (51), kenaikan harga beras ini sudah terjadi sejak dua pekan yang lalu. Namun, hingga saat ini belum ada upaya Pemerintah Kabupaten Bandung mengatasi kenaikan harga bahan pangan pokok ini.
“(harga beras naik) Sudah dua minggu yang lalu. Pasokan beras sedikit karena distribusi yang kurang lancar. Belum ada tindakan pemerintah mengatasi masalah ini,” ungkap Suhendar, Jumat (5/9/2025).
Ia mengharapkan agar Pemerintah Kabupaten Bandung segera bergerak mengatasi kelangkaan beras ini. Sebab, minimnya pasokan ini memicu kenaikan harga beras.
Dari pantauan di lapangan, kenaikan harga beras ini mencapai Rp 1.000 per kilogramnya, baik beras medium maupun premium. Saat ini, harga beras premium di pasaran mencapai Rp 15.000 per kilogram, bahkan sempat menembus harga Rp 16.000 per kilogram.
Meski saat ini pemerintah sudah menjual beras SPHP, namun menurut Suhendar, hal itu masih kurang berdampak menstabilkan harga beras di pasaran. Ia pun jadi berasumsi, tidak lancarnya pasokan dari distributor ke pedagang beras di pasar tradisional mungkin untuk menutupi kuota pasokan beras SPHP. Namun ia juga tidak mau berandai-andai.
“Saya juga kurang tahu apakah tidak lancarnya pasokan beras ke pedagang beras karena ada program pemerintah itu (SPHP)? Saya enggak mau mengandai-andai. Ya silahkan saja (program SPHP), tapi jangan sampai mematikan pedagang beras di pasaran. Lagian distribusi beras SPHP ini juga kan tidak semua orang dapet,” ungkapnya.Dampak Kenaikan Harga Beras, Konsumen Kurangi Jumlah Pembelian, Omzet Pedagang Menurun
Sementara itu, menurut seorang konsumen, Asti Nurlianti (38) menuturkan, dampak dari lonjakan harga beras ini memaksanya mengurangi jumlah konsumsi harian. Sebab, di tengah ketidakjelasan ekonomi saat ini, dengan uang belanja yang ada ia harus bisa menutupi kebutuhan sehari-hari.
“Sekarang apa-apa (harga kebutuhan hidup sehari-hari) sudah mahal. Otomatis ibu-ibu harus pinter-pinter cari cara bagaimana caranya biar uang belanja bulanan bisa cukup. Untuk masyarakat menengah kondisi ekonomi saat ini sungguh berat. Apalagi sekarang terjadi kenaikan harga beras,” ungkapnya.Baca Juga : Jaga Inflasi Daerah, Polres Cimahi Salurkan 278 Ton Beras SPHP di GPM
Salah satu upaya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari itu, kata Asti, ia terpaksa membeli beras secukupnya. Apalagi saat harga beras naik seperti sekarang, dari yang biasa ia beli 5 kilogram, ia hanya beli 4 kilogram.
“Mudah-mudah kondisi ekonomi cepat pulih dan membaik. Bagi kaum menengah mah, kondisi ini cukup berat. Sudah beruntung masih bisa beli beras meskipun terjadi kenaikan harga seperti sekarang,” ungkap ia. (Ecp/trustjabar/R1)
Komentar
0 komentar untuk Kenaikan Harga Beras Medium dan Premium, Penjual di Pasar Tradisional di Kabupaten Bandung Terkena Dampak
Masuk dulu untuk ikut diskusi
Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.