Sabtu, 05 September 2026
Breaking News
STIE IBMT Surabaya Pertahankan Penghargaan Entrepreneurial Marketing Campus for Impact 2026 dari MCorp & MarkPlus Institute Polemik Tarif Masuk Rumah Pengabdi Setan di Pangalengan, DPRD Kabupaten Bandung Dorong Bupati Terbitkan Surat Edaran Wisuda STIE IBMT Surabaya, Cetak 300 Lulusan Kompeten dan Berjiwa Entrepreneur Pegadaian dan POGI Gelar Program Merdeka Stunting 2026 di Bandung Dua Serdik Sespimma Amankan Penumpang yang Diduga Serang Sopir Grab dengan Pisau di Lembang Pegadaian Kanwil X Jawa Barat Rutin Gelar Program Mengetuk Pintu Langit inDrive Luncurkan SIAGA untuk Perkuat Respons Keselamatan di Bandung inDrive Luncurkan SIAGA untuk Perkuat Respons Keselamatan di Bandung BNN Ungkap 2,6 Ton Metamfetamin Cair di Kapal Berbendera Tanzania, Senilai Rp8,5 Triliun Siswa Sespimma Polri Angkatan 76 Semarakkan HUT ke-81 RI dengan Lomba 17 Agustus STIE IBMT Surabaya Pertahankan Penghargaan Entrepreneurial Marketing Campus for Impact 2026 dari MCorp & MarkPlus Institute Polemik Tarif Masuk Rumah Pengabdi Setan di Pangalengan, DPRD Kabupaten Bandung Dorong Bupati Terbitkan Surat Edaran Wisuda STIE IBMT Surabaya, Cetak 300 Lulusan Kompeten dan Berjiwa Entrepreneur Pegadaian dan POGI Gelar Program Merdeka Stunting 2026 di Bandung Dua Serdik Sespimma Amankan Penumpang yang Diduga Serang Sopir Grab dengan Pisau di Lembang Pegadaian Kanwil X Jawa Barat Rutin Gelar Program Mengetuk Pintu Langit inDrive Luncurkan SIAGA untuk Perkuat Respons Keselamatan di Bandung inDrive Luncurkan SIAGA untuk Perkuat Respons Keselamatan di Bandung BNN Ungkap 2,6 Ton Metamfetamin Cair di Kapal Berbendera Tanzania, Senilai Rp8,5 Triliun Siswa Sespimma Polri Angkatan 76 Semarakkan HUT ke-81 RI dengan Lomba 17 Agustus
TrustJabar
Internasional Pojok Lingkungan
Penulis: Cep02 Nov 2025

Lonjakan Karbondioksida di Atmosfer, Picu Penurunan Terumbu Karang

Akibat adanya lonjakan tingkat karbondioksida di atmosfer dampak pemanasan global, menyebabkan penurunan terumbu karang.

Great Barrier Reef. Lonjakan karbondioksida di atmosfer dapat memicu penurunan terumbu karang akibat pemanasan global. Foto: ist/net

Great Barrier Reef. Lonjakan karbondioksida di atmosfer dapat memicu penurunan terumbu karang akibat pemanasan global. Foto: ist/net

trustjabar.com – Akibat adanya lonjakan tingkat karbondioksida di atmosfer dampak pemanasan global, menyebabkan penurunan terumbu karang. Para peneliti terkemuka di dunia pun mengeluarkan peringatan keras terkait kekacauan iklim saat ini.

Baca Juga : Banjir Terjang Cikole Bandung Barat, Warga Tuding Marak Alih Fungsi Lahan

Peningkatan lonjakan karbondioksida di atmosfer yang berdampak pada penurunan terumbu karang ini, belum pernah terjadi sebelumnya di 2024. Konsumsi bahan bakar fosil global, mencapai puncak baru pada 2024 dengan total mencapai 37,4 miliar ton CO2. Jumlah ini meningkat 0,2 persen dari tahun sebelumnya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, konsentrasi karbondioksida di atmosfer melonjak 3,5 bagian per juta menjadi 424 ppm. Hal ini menandai peningkatan tahunan terbesar sejak pengukuran sistematis yang dimulai sejak 1957.

Lonjakan karbondioksida di atmosfer ini mencerminkan ketergantungan yang terus berlanjut pada bahan bakar fosil dan melemahkan sistem penyerapan karbon alami.

Mengutip pernyataan Sabine Fuss dalam The Guardian pada Minggu (2/112025), para ilmuwan memperingatkan bahwa suhu yang meningkat mengurangi kemampuan penyerapan CO2.

“Kita telah lama mengandalkan hutan dan tanah membersihkan kekacauan karbon kita. Namun, saat ini kemampuan hutan, tanah, dan lautan menyerap CO2 melemah. Ini menciptakan lingkaran umpan balik berbahaya,” tuturnya.

Lonjakan Karbondioksida di Atmosfer, Terjadi Peristiwa Pemutihan Karang Global

The Global Tipping Points Report 2025 yang ditulis 160 ilmuwan dari 23 negara mengonfirmasi, terumbu karang air hangat telah melewati titik krisis mereka. Peristiwa pemutihan karang global keempat sejak 2023, telah memengaruhi lebih dari 80 persen terumbu karang di dunia. Dengan kematian massal terumbu karang yang kini sedang berlangsung.

“Kami kini telah membebani terumbu karang melampaui ketahanannya,” ungkap Helen Barrett, penasihat ilmiah World Wildlife Fund UK.

Baca Juga : FAKTA UNIK! Keunikan Gurita tak Hanya Mampu Berkamuflase, Inilah Ragam Kemampuan Lainnya!

Lonjakan karbondioksida di atmosfer menimbulkan krisis iklan yang meningkat termanifestasi secara dramatis pada akhir Oktober dengan Badai Melissa. Badai ini menerjang Jamaika sebagai badai Kategori 5. Badai tersebut mencontohkan mengenai peristiwa cuaca ekstrem menjadi semakin sering terjadi dan parah.

“Krisis iklim telah mencapai tahap yang sangat berbahaya. Sangat penting bagi kita membatasi pemanasan global di masa depan secepat mungkin,” ungkap William Ripple dalam laporan State of the Climate Change.

Peringatan para ilmuwan mengenai lonjakan karbondioksida di atmosfer akibat pemanasan global ini disampaikan menjelang pelaksanaan KTT COP 30. Para peneliti memperingatkan bahwa ambang batas pemanasan 1,5 derajat Celcius dapat memicu titik kritis tambahan.

Sebagai informasi, para pemimpin dunia bersiap berkumpul di COP 30 di Belem, Brazil pada 10-21 November 2025. (ecp/trustjabar/R1)

Komentar

0 komentar untuk Lonjakan Karbondioksida di Atmosfer, Picu Penurunan Terumbu Karang

Masuk dulu untuk ikut diskusi

Akun pembaca dipakai khusus untuk komentar artikel.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memulai diskusi.