Selasa, 21 April 2026
Breaking News
DPRD Kabupaten Bandung Gelar Rapat Paripurna Hari Jadi ke-385, Tekankan Sinergi dan Pelestarian Budaya Bupati; Arah Transformasi Pembangunan Kabupaten Bandung Fokus Penguatan Desa Kabupaten Bandung Langganan Bencana Hidrometeorologi Gubernur dan Pengamat Soroti Tata Ruang Anggota DPRD Jawa Barat Soroti Masalah Banjir Kabupaten Bandung Implementasikan Falsafah Sunda Leuweung Hejo Rahayat Ngejo, Mantan Bupati Bandung Bagikan Ratusan Bibit Pohon Produktif Pentahelix dan Realitas Kabupaten Bandung, Saat Masalah tak Kunjung Selesai Mengungkap Fakta Unik Ikan Pari, Predator Laut dengan Kemampuan Deteksi Listrik Mangsa Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem Sergap Kabupaten Bandung, Bupati Ubah Rencana Peringatan Hari Jadi Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem di Indonesia, BNPB Imbau Warga Lakukan Evakuasi Video Proses Penemuan dan Evakuasi Jasad Agus Sutisna Korban Terbawa Arus Sungai Cibanjaran DPRD Kabupaten Bandung Gelar Rapat Paripurna Hari Jadi ke-385, Tekankan Sinergi dan Pelestarian Budaya Bupati; Arah Transformasi Pembangunan Kabupaten Bandung Fokus Penguatan Desa Kabupaten Bandung Langganan Bencana Hidrometeorologi Gubernur dan Pengamat Soroti Tata Ruang Anggota DPRD Jawa Barat Soroti Masalah Banjir Kabupaten Bandung Implementasikan Falsafah Sunda Leuweung Hejo Rahayat Ngejo, Mantan Bupati Bandung Bagikan Ratusan Bibit Pohon Produktif Pentahelix dan Realitas Kabupaten Bandung, Saat Masalah tak Kunjung Selesai Mengungkap Fakta Unik Ikan Pari, Predator Laut dengan Kemampuan Deteksi Listrik Mangsa Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem Sergap Kabupaten Bandung, Bupati Ubah Rencana Peringatan Hari Jadi Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem di Indonesia, BNPB Imbau Warga Lakukan Evakuasi Video Proses Penemuan dan Evakuasi Jasad Agus Sutisna Korban Terbawa Arus Sungai Cibanjaran
Internasional Pojok Lingkungan
Penulis: Cep 02 Nov 2025

Lonjakan Karbondioksida di Atmosfer, Picu Penurunan Terumbu Karang

Akibat adanya lonjakan tingkat karbondioksida di atmosfer dampak pemanasan global, menyebabkan penurunan terumbu karang.

Great Barrier Reef. Lonjakan karbondioksida di atmosfer dapat memicu penurunan terumbu karang akibat pemanasan global. Foto: ist/net

Great Barrier Reef. Lonjakan karbondioksida di atmosfer dapat memicu penurunan terumbu karang akibat pemanasan global. Foto: ist/net

trustjabar.com – Akibat adanya lonjakan tingkat karbondioksida di atmosfer dampak pemanasan global, menyebabkan penurunan terumbu karang. Para peneliti terkemuka di dunia pun mengeluarkan peringatan keras terkait kekacauan iklim saat ini.

Baca Juga : Banjir Terjang Cikole Bandung Barat, Warga Tuding Marak Alih Fungsi Lahan

Peningkatan lonjakan karbondioksida di atmosfer yang berdampak pada penurunan terumbu karang ini, belum pernah terjadi sebelumnya di 2024. Konsumsi bahan bakar fosil global, mencapai puncak baru pada 2024 dengan total mencapai 37,4 miliar ton CO2. Jumlah ini meningkat 0,2 persen dari tahun sebelumnya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, konsentrasi karbondioksida di atmosfer melonjak 3,5 bagian per juta menjadi 424 ppm. Hal ini menandai peningkatan tahunan terbesar sejak pengukuran sistematis yang dimulai sejak 1957.

Lonjakan karbondioksida di atmosfer ini mencerminkan ketergantungan yang terus berlanjut pada bahan bakar fosil dan melemahkan sistem penyerapan karbon alami.

Mengutip pernyataan Sabine Fuss dalam The Guardian pada Minggu (2/112025), para ilmuwan memperingatkan bahwa suhu yang meningkat mengurangi kemampuan penyerapan CO2.

“Kita telah lama mengandalkan hutan dan tanah membersihkan kekacauan karbon kita. Namun, saat ini kemampuan hutan, tanah, dan lautan menyerap CO2 melemah. Ini menciptakan lingkaran umpan balik berbahaya,” tuturnya.

Lonjakan Karbondioksida di Atmosfer, Terjadi Peristiwa Pemutihan Karang Global

The Global Tipping Points Report 2025 yang ditulis 160 ilmuwan dari 23 negara mengonfirmasi, terumbu karang air hangat telah melewati titik krisis mereka. Peristiwa pemutihan karang global keempat sejak 2023, telah memengaruhi lebih dari 80 persen terumbu karang di dunia. Dengan kematian massal terumbu karang yang kini sedang berlangsung.

“Kami kini telah membebani terumbu karang melampaui ketahanannya,” ungkap Helen Barrett, penasihat ilmiah World Wildlife Fund UK.

Baca Juga : FAKTA UNIK! Keunikan Gurita tak Hanya Mampu Berkamuflase, Inilah Ragam Kemampuan Lainnya!

Lonjakan karbondioksida di atmosfer menimbulkan krisis iklan yang meningkat termanifestasi secara dramatis pada akhir Oktober dengan Badai Melissa. Badai ini menerjang Jamaika sebagai badai Kategori 5. Badai tersebut mencontohkan mengenai peristiwa cuaca ekstrem menjadi semakin sering terjadi dan parah.

“Krisis iklim telah mencapai tahap yang sangat berbahaya. Sangat penting bagi kita membatasi pemanasan global di masa depan secepat mungkin,” ungkap William Ripple dalam laporan State of the Climate Change.

Peringatan para ilmuwan mengenai lonjakan karbondioksida di atmosfer akibat pemanasan global ini disampaikan menjelang pelaksanaan KTT COP 30. Para peneliti memperingatkan bahwa ambang batas pemanasan 1,5 derajat Celcius dapat memicu titik kritis tambahan.

Sebagai informasi, para pemimpin dunia bersiap berkumpul di COP 30 di Belem, Brazil pada 10-21 November 2025. (ecp/trustjabar/R1)

Komentar

0 komentar untuk Lonjakan Karbondioksida di Atmosfer, Picu Penurunan Terumbu Karang

Masuk dulu untuk ikut diskusi

Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memulai diskusi.