Indonesia dan Dua Negara Berkembang Terbesar Dunia Tandatangani Kesepakatan Strategis Mineral Kritis
Tiga negara berkembang terbesar di dunia, salah satunya Indonesia, menandatangani serangkaian kesepakatan strategis mineral kritis.
Indonesia dan dua negara berkembang terbesar di dunia bersepakat menandatangani kesepakatan strategis mineral kritis. Foto: ilustrasi/net
trustjabar.com – Upaya mengurangi dominasi produk Tiongkok, tiga negara berkembang terbesar di dunia menandatangani serangkaian kesepakatan strategis mineral kritis. Tiga negara berkembang tersebut yakni Brazil, India, dan Indonesia. Kesepakatan strategis itu pun terjadi dalam rentang waktu kurang dari 48 jam. Dengan adanya penandatanganan kesepakatan strategis itu, akan mengubah peta rantai pasok global.
Baca Juga : IMF Segera Ketok Palu Pinjaman 8,1 Miliar Dolar Amerika Untuk Ukraina
Melansir dari berbagai sumber, pada Jumat (20/2/2026), Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART). Penandatanganan tersebut berlangsung di Washington DC. Salah satu poin utamanya adalah pembukaan akses mineral kritis Indonesia bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat.
Sehari kemudian, Sabtu (21/2/2026), PM India Narendra Modi dan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menandatangani pakta jenis mineral tersebut. Tak hanya itu penandatanganan itu juga terkait unsur tanah jarang di New Delhi, India.
Dalam dokumen ART, Indonesia berkomitmen menghapus pembatasan ekspor komoditi industri ke Amerika, termasuk mineral kritis. Mineral kritis itu seperti nikel, tembaga, kobalt, dan logam tanah jarang.
Kedua negara juga bersepakat mengintensifkan kerja sama dalam penambangan, pengolahan, dan produksi mineral kritis.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan, kesepakatan ini bukan berarti membuka kembali ekspor mentah. “Yang dimaksudkan di sini adalah mereka setelah melakukan pemurnian, kemudian hasilnya bisa ekspor,” ucap Bahlil di Washington DC.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan, mineral yang mereka maksud yakni industri mineral. “Artinya, secondary processed,” ucap Airlangga.
Pandangan India Terkait Mineral Kritis
Sementara itu, di New Delhi, Modi mengayakan jika kesepakatan mineral kritis dengan Brasil sebagai langkah besar menuju membangun rantai pasok tangguh.
Presiden Lula yang tiba di India pada Rabu waktu setempat untuk kunjungan kenegaraan selama tiga hari. Ia menuturkan, peningkatan investasi dan kerja sama di bidang energi terbarukan adalah inti dari kesepakatan yang ingin mereka capai.
Baca Juga : AI DeepRare Akhiri Penantian Panjang Pasien Penyakit Langka, Akurasi Lampaui Standar Medis Global
“Peningkatan investasi dan kerja sama di bidang energi terbarukan dan mineral kritis, adalah inti dari kesepakatan terobosan yang kami capai,” katanya.
Sebagai informasi, Brasil memiliki cadangan jenis mineral ini, terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Menurut kantor berita EFE, kebijakan Brasil dalam kesepakatan ini menekankan bukan sekadar ekstraksi mineral, tetapi juga pemrosesan di dalam negeri.
Selain perjanjian mineral, kedua negara juga menargetkan peningkatan perdagangan bilateral hingga melampaui 20 miliar dolar Amerika dalam lima tahun ke depan.
Rangkaian kesepakatan ini terjadi di tengah upaya global mengurangi ketergantungan kepada Tiongkok, yang menguasai sekitar 90 persen pemrosesan unsur tanah jarang dunia. Amerika Serikat sendiri telah menandatangani 11 kerangka kerja mineral kritis bilateral baru pada awal Februari dalam konferensi tingkat menteri di Washington yang dihadiri 54 negara. (cep/trustjabar/R1)
Komentar
0 komentar untuk Indonesia dan Dua Negara Berkembang Terbesar Dunia Tandatangani Kesepakatan Strategis Mineral Kritis
Masuk dulu untuk ikut diskusi
Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.